“Kami mulai dari nol, hidup di
kampung tidak punya apa-apa, bahkan punya tanah sedikit dijual teman, sering
dihina orang karena miskin, namun kami tidak marah dan makin bersemangat untuk
lebih baik, mulai ber-CU sedikit demi sedikit, lalu bisa beli tanah dan
kemudian waktu berjalan pinjam buat bangun tiga ruko ini, kemudia juga beli
kendaraan untuk memperlancar usaha, dan saat ini masih punya pinjaman untuk
tanah kebun”, ujar Perempuan paruh baya itu dengan penuh semangat.
Namanya Yuliana atau disapa
sebagai ibu Yul, energik, periang dan humoris begitu banyak orang mengenalnya. Istri
dari pak Ba’at dan ibu dari 5 orang anak ini memiliki pemikiran yang berbeda
dari ibu-ibu di kampung kebanyakan, dimana ia memaksimalkan hasil dari keluarga
untuk membangun aset. Jikalau di banyak keluarga, suami cenderung lebih aktif
menentukan arah ekonomi keluarga, tidak demikian dengan keluarga ibu Yul. Ia-lah
yang banyak memiliki ide dan rencana produktif yang terukur.
“Saya taunya cari uang, simpan ke
dia (istri), lalu ia atur dan kadang punya rencana, lalu kami rundingkan dan
sama-sama wujudkan”, ujar pak Ba’at bercerita tentang istrinya.
“Saya paling kasi dia (suami)
uang rokok, udah sisanya saya tabung”, sela ibu Yul yang disambut dengan tawa
sang suami.
Namun bu Yul bukanlah sosok yang
pasif, ia juga membantu sang suami untuk mencari nafkah. Ia dikenal sebagai
salah satu ibu-ibu di Sungai Melayu yang menjajakan sayuran khas kampung. “Biasa
saya ambil rebung, pakis, daun timun dan sayuran kampung di kebun, saya ambin
dan saya jual, hasilnya saya tabung”, ujarnya semangat.
Bahkan si anak yang bungsu yakni
Bagas mengikuti jiwa wirausaha dari orang tuanya. “Saya sering juga membantu
orang tua jualan, seperti saat ini saya jual durian hasil dari nyandau di kebun
kami di bukit”, ujar Bagas yang tahun ini naik kelas 3 SMK.
Ketika ditanya tentang rasa
gengsi, si bungsu ini tak merasakannya sama sekali. “Saya tak pernah malu, saya
bangga bisa bantu orang tua dan saya juga bangga memiliki mereka”, pungkasnya.
Berjalan waktu keluarga ibu Yul
memiliki passive income dari ruko yang mereka sewakan. Dari 3 ruko tiap
bulan ada hasil Rp. 4.800.000,- pemasukan rutin bagi keluarganya.
“Dari hasil sewa Ini bisa bayar
hutang sisanya mau di tabung untuk rencana pinjam lagi buat bangun kontrakan di
belakang ruko”, ujarnya lagi.
Sementara ketika ditanya bagi
mereka apa arti CUPS itu, sang suami menjawab lugas “CUPS itu kebun kami yang
subur dan besar, kebun yang kami rawat, jenguk dan sayangi, ketika waktunya
tiba kami bisa panen sesuai kebutuhan kami”, ungkapnya.
Tentu dengan bahasa yang
sederhana namun mengandung makna yang mendalam. Apalagi diucapkan oleh keluarga
dari kampung yang tak pernah mengenal bangku pendidikan, sungguh makna
filosofis yang istimewa.
Sebuah makna yang tak ujug-ujug
ada, namun bagian dari portofolio perjalanan panjang dari kehidupan sedehana
namun penuh rencana.
Saat ini bu Yul masih
mengusahakan kebun sawit seluas 7 hektar yang baru mereka olah dan tanami. “Untuk
hari tua dan masa depan anak kami”, ujarnya tersenyum.
Teriknya sinar matahari dan terbalut angin kemarau yang bertiup kencang tak menyurutkan semangat dari bu Yul dan keluarganya. Bagi mereka hidup sederhana, berusaha dengan tekun, jadikan cemoohan sebagai motivasi lebih baik, wujudkan rencana secara bertahap dan bijak, serta mensyukuri atas apa yang telah dicapai bersama adalah nilai yang perlu diwariskan khususnya bagi anak-anaknya.
Laku sederhana namun sarat
akan nilai-nilai baik dari sebuah keluarga sederhana ini pun menjadi semangat
tersendiri bagi kesinambungan dari gerakan pemberdayaan CUPS yang tahun 2026
ini berusia 25 tahun.