Menanam Pemberdayaan untuk Menuai Pola Pikir tentang Pentingnya Pendidikan


fl-bangkal-serai

fl-di-bangkal-serai
“Terima kasih ya ibu- bapak mau mengunjungi kami, memberi semangat untuk sekolah dan menabung pada anak-anak. Kami jujur saja Ibu, bingung juga membuka pikiran orang tua para murid untuk peduli dengan pendidikan anaknya. Sampe-sampe ada orang tua murid yang tidak mau bayarkan seragam anaknya dengan alasan biar anaknya tidak sekolah saja. Akhirnya kami gratiskan seragam agar anak-anak kami supaya kelihatan sekolah- lah istilahnya meskipun harus rogoh kantong mana saja untuk membayarnya”. Itulah sepenggal ungkapan hati bapak Ishak Ibrahim Makunimau, yang juga seorang guru di SDN Perintis Pasir Putih, Bangkal Serai, Kendawangan, Ketapang-Kalimantan Barat.
Ungkapan itu terlihat di dinding wall facebook salah satu aktivis CUPS TP. Singkup Yovita Kristianingrum. Ungkapan ini di dapat saat mereka menyelenggaran pelatihan financial literacy untuk siswa-siswi SD di Kecamatan Singkup. Hal ini menggambarkan masih rendahnya kesadaran para orang tua untuk mendorong anaknya dapat menempuh pendidikan.
Tentu hal ini selain faktor ekonomi juga disebabkan faktor pola pikir beberapa orang tua bahwa pendidikan itu bukan sebuah hal yang sangat penting. Bagi mereka asal sekolah SD saja cukuplah sudah dapat membantu orang tua untuk bekerja di kebun atau bekerja kasar dan serabutan.
Kebanyakan hal ini terjadi di daerah pesisir dan pedalaman padahal diketahui investasi besar-besaran baik itu pertambangan dan perkebunan masuk di sana. Imbasnya adalah penyerapan tenaga kerja lokal sangatlah minim dengan alasan kualitas pendidikan Sumber Daya Manusia (SDM) atau kalaupun bekerja mereka hanyalah sebagai buruh kasar saja.
Kehadiran CU. Pancur Solidaritas tentu perlahan namun pasti membawa perubahan pola pikir masyarakat. Mereka terus disadarkan dengan kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas dan pola pikir tentang pentingnya menabung dan merancang masa depan. Seperti yang dilakukan kali ini dengan kegiatan financial literacy untuk siswa-siswi SD. Mereka di ajak berpikir tentang pentingnya memiliki kesadaran menabung sejak dini.
Mulai dengan mengenalkan nominal uang, bahwa kalau kita jajan kita butuh uang, jajanan yang kita beli berbeda-beda harganya, uang jajan yang diterima adalah hasil dari kerja keras orang tua mereka dengan profesi yang berbeda-beda, serta pentingnya para orang tua bekerja dan mengorbankan waktu agar mereka bisa sampai saat ini. Hal-hal sederhana inilah yang ditumbuhkan para aktivis kepada para siswa-siswi agar mereka sadar tentang pentingnya perencanaan dan membedakan kebutuhan dan keinginan. Tentu pada akhirnya mereka diajak bahwa untuk bekerja lebih layak dan hasil yang lebih baik mereka harus bersekolah.
Kepedulian pada dunia pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama tentu dengan peran kita masing-masing. Credit Union turut mengambil peran itu agar anak bangsa dan para orang tua memiliki kesadaran tentang perencanaan keuangan dan pentingnya pendidikan adalah sesuatu yang linear dan mesti berjalan beriringan. (VD-Irwin CUPS)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.