Belajar Pada Tuam Dan Junih


Pak Tuam berangkat ke Kota Kecamatan menjual hasil buminya dengan menumpang mobil yang lewat
2
Pak Tuam dengan pondok di Dohasnya
3
Pak Junih seorang tunanetra yang memiliki multitalenta dan hidup mandiri di kampung Jemayas Kec Marau Ketapang
4
Keseharian Pak Junih yang memetik hasil kebunnya untuk dijual, semuanya dilakukan secara mandiri, potret kegigihan ditengah keterbatasan

 

Pagi masih malu-malu memancarkan sinar merahnya, embun dan sisa hujan semalam masih terlihat menetes di dedaunan pepohonan yang tumbuh rapi diantara jalan setapak menuju dohas yang berjarak kurang lebih 500 meter dari jalan perusahaan. Dohas adalah sebutan untuk kampung buah bagi masyarakat Dayak di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat yang berisi tanaman buah-buahan, obat-obatan yang terintegrasi dengan kebun sayur, padi gunung/padi ladang dan ternak peliharaan. Biasanya di tengah-tengahnya dibangun pondok bagi pemilik dohas. Dohas bagi masyarakat Dayak layaknya supermarket yang menyediakan segala kebutuhan mereka yang harus dibayar dengan cara merawat dan melestarikannya, sebuah potret nyata dari kearifan lokal.

Pagi itu kami mengunjungi Pak Tuam (65 tahun) seorang masyarakat biasa yang tinggal di dusun Sayang Kakah Kecamatan Singkup Kabupaten Ketapang. Ia tinggal di dohas yang saat ini telah memiliki luas kurang lebih  8 Ha. Ia telah menambah luasnya secara bertahap dengan membeli lahan disekitarnya yang berbatasan dengan kebun sawit perusahaaan. Keberadaan dohas juga menjadi benteng pelestari alam dan penjaga ketersediaan air dari alih fungsi lahan untuk perkebunan.  Menariknya suami dari Ibu Sekinyum ini kesehariannya masih mengenakan cawat (celana tradisional dari kain yang dililitkan di pinggang), padahal di situ nyamuk luar biasa banyaknya. “Sudah biasa, nyamuk pun bersahabat”, ujarnya terkekeh.

Seperti hari itu ia baru saja memanen jengkol dan mengambil ikan yang ia tangkap di sungai tak jauh dari ladangnya. Ikan itu pun ia salai (pengawetan ikan dengan diasap di bawah perapian dengan api kecil), sementara jengkol masih di dalam penangkin (keranjang dari anyaman rotan untuk membawa hasil alam dan buah-buahan). Setelah mandi sebentar di sungai kecil ia pun bersiap membawa jengkolnya untuk di jual ke kota kecamatan. “Kalo pagi beri makan ayam, babi, lalu nanam sayur-sayuran, metik buah atau sayur, lihat perangkap ikan lalu pulang untuk siap-siap jualan”, ungkap bapak tiga anak ini meceritakan aktivitasnya setiap hari.

Langkah Pak Tuam terlihat agak cepat melewati jalan setapak dimana kiri kanannya ditumbuhi karet dan tanaman buah-buahan seperti durian, cempedak, duku, pekawai dan masih banyak lagi, ia menuju ke arah jalan besar yang merupakan jalan yang dibangun oleh perusahaan sawit. Beruntung hari itu ia dapat menumpang mobil yang lewat karena kalau tidak ia harus berjalan kurang lebih 2 jam ke kota kecamatan. “Numpang mobil orang lewat kalau ndak pun jalan kaki”, begitu ujar pak Tuam yang juga telah memiliki rumah di tepi jalan besar  selain pondok yang terletak di tengah dohas kepunyaannya.

Sesampainya di kota kecamatan ia menjual jengkol yang ia bawa. Pembelinya biasanya orang kampung setempat maupun orang pendatang yang kebanyakan transmigrasi dari Jawa. Selain jengkol ia mengaku menjual segala hasil ladang dan kebunnya seperti durian, cempedak, sayur-sayuran dan ternaknya yang terdiri dari ayam kampung dan babi. Tentu bila ternak yang di jual maka ada pembeli yang datang ke dohasnya.

Setelah berjualan ia biasanya menyisihkan uang hasil penjualan untuk di tabung di sebuah koperasi kredit yang ada di kota kecamatan itu. Dari simpanannya yang telah ia buka sejak tahun 2009 ini ia mengaku sudah dapat memetik manfaatnya antara lain membeli lahan untuk memperluas dohas-nya, membeli pupuk dan membangun rumah di tepi jalan untuk menjual hasil kebunnya kelak. “Lumayanlah dengan menabung saya juga bisa pinjam untuk beli lahan, beli pupuk dan bangun rumah” ujarnya dengan logat Dayak yang masih kental. Baginya menabung rutin di koperasi adalah keharusan dan kebutuhan, karena sebelumnya ia bingung menggunakan serta menyimpan uangnya karena ia hanya belanja kebutuhan yang tidak tersedia  di dohasnya saja seperti minyak goreng, sabun, peralatan dapur dan lain-lain sementara beras, sayur dan lauk pauk semua telah tersedia.

Secara sederhana semangat kewirausahaan dapat terdifinisikan dari pola hidup yang dilakukan oleh pak Tuam. Walau ia tinggal jauh dari keramaian kota  ia telah “sejahtera” dengan pilihannya. “Saya punya kebun karet, tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, ternak ayam adalah puluhan ekor, babi puluhan ekor,….lumayanlah”, pungkasnya mencoba mengidentifikasi aset yang ia miliki.

Lain pak Tuam lain pula cerita tentang pak Junih (67 tahun) yang tinggal di desa Jemayas Kecamatan Marau Kabupaten Ketapang. Pria tuna netra ini tinggal sendirian di sebuah pondok di kampung Jemayas yang dapat ditempuh sekitar 5 jam perjalanan dari kota kabupaten.

Ia bercerita sejak kecil ia menderita, karena keterbatasannya ia sering di-bully bahkan pernah hampir di bunuh. Pernah ia di dorong temannya ke sebuah belantik (perangkap babi hutan berupa tombak kayu), namun Tuhan berkehendak lain dengan masih memberikan perlindungan-Nya. Dari hal itu pulalah yang mendorongnya untuk meninggalkan kampung dan tinggal di Jemayas. “Waktu kecil sengsara, disiksa orang, tidak ada rasa kasihan….tapi Tuhan kan adil”, ungkapnya menceritakan masa lalunya sebelum ke Jemayas. Masa mudanya pak Junih seorang pekerja keras dimana ia sering bekerja mengangkut kayu yang ditebang dari hutan.  Walaupun ia tuna netra tak menjadi penghalang baginya mencari nafkah untuk dirinya

terlihat seperti saat ini dimana segala aktivitasnya ia lakukan sendiri mulai dari memasak, mencuci, membelah kayu dan berkebun ia lakukan sendiri. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ia berjualan sayur-sayuran ke kota kecamatan yang berjarak 2 Km dari kampungnya.

Seperti hari itu kami menemuinya saat ia bermain gamal (alat musik pukul di masyarakat Dayak yang berbentuk seperti gamelan) di depan rumahnya. Setelah itu ia pergi ke belakang rumah melihat kebunnya yang ia tanami sayur-sayuran dan memanen tanaman sayur sepert daun ubi dan kangkung yang akan ia jual. Kemudian ia membelah kayu bakar dengan kapak sambil ia memasak air untuk membuat kopi. Setelah beristirahat sejenak ia pun berangkat untuk berjualan. Dengan berjalan kaki membawa sayur-sayuran yang ditempatkan di penangkin, ia pun berangkat kota kecamatan yakni Marau. Berbekalkan tongkat ia berjalan menyusuri jalan dengan topografi naik-turun. “Biasanya saya juga membawa sayur milik tetangga untuk di jual ke kecamatan” ujar bapak yang juga memiliki kemampuan untuk mengobati orang sakit dengan pengobatan tradisional ini.

Menariknya ia hapal dengan perempatan-perempatan yang harus ia lewati serta ia mengenal uang yang dibayarkan para pembeli kepadanya. Seperti hari itu seorang ibu pun menyodorkan uang Rp. 10.000 untuk beberapa ikat sayur yang ia bawa. Ia pun dapat mengidentifikasi uang dengan baik. “Pak Junih tau nebak uang dari Rp. 1.000,-, Rp. 2.000,-hingga Rp. 20.000,- tapi kalau uang besar kaya Rp. 50.000 sampai Rp. 100.000,- ia sering salah, karena memang jarang memegang uang besar dari pembeli, kita pun yang beli juga biasanya membeli pakai uang pas untuk membantu dia”, ungkap Aling seorang ibu tentang kemampuan pak Junih menebak uang.

Setelah berjualan ia selalu menyisihkan hasil dagangannya dalam bentuk tabungan ke koperasi kredit sama seperti kisah pak Tuam di atas. Baginya menabung adalah hal yang penting dan wajib apalagi bagi usianya yang sudah senja. Ia memiliki keinginan apabila ia meninggal kelak ia tak ingin merepotkan orang lain untuk biaya pemakamannya karena ia telah menyiapkannya dalam bentuk tabungan. “Biar kalau meninggal tak nyusahkan orang”, ujarnya lirih. Dari koperasi yang sering disebut sebagai Credit Union ini pun ia telah banyak menerima manfaat diantaranya meminjam untuk peralatan taninya dan untuk pengobatan ketika ia sakit.

Sungguh dua potret di atas sangat menggugah kami yang melihat langsung dan berinteraksi dengan mereka berdua, betapa tidak jauh di pelosok Kalimantan, masyarakat kita memiliki kesederhanaan dan semangat bekerja keras serta semangat berwirausaha, walaupun mereka tidak mengerti apa itu difinisi wirausaha.

Tentu Koperasi dewasa ini harus dapat menyentuh dan membumi pada masyarakat khususnya yang kesulitan memiliki akses keuangan dan mengembangkan usaha seperti di daerah pedalaman dimana bank-bank belum tersedia serta ketersediaan infrastruktur yang masih buruk.

Pak Tuam dan Pak Junih menunjukkan walaupun usia mereka tak lagi muda namun mereka memiliki semangat bekerja keras dan memiliki kesadaran menabung. Sungguh membawa inspirasi bagi kaum muda  bagaimana di usia senja mereka tetap produktif dengan usahanya dan memiliki tabungan yang terus meningkat.

Semangat berwirausaha sendiri perlu ditumbuh-kembangkan ditengah masyarakat, dan koperasi diharapkan menjadi motor penggeraknya. Wirausaha tumbuh baik kesejahteraan pun bertumbuh pula dan tentunya menjadi efek domino bagi aspek lainnya seperti kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Pada Tuam dan Junih kita belajar tentang kesederhanaan dan semangat bekerja keras, pada pak Tuam dan pak Junih kita belajar tentang kearifan lokal dan manajemen keuangan, pada pak Tuam dan pak Junih kita belajar.

(VD. Irwin)

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.