Antara Daud “Cino” Yordan, Pemberdayaan dan Credit Union


Waktu menunjukkan pukul 04:00 subuh, kabut tipis masih menyelimuti hamparan bukit, sawah dan tepian pantai diiringi hempasan ombak. Sesekali terdengar jerit Kelempiau/owa-owa (Hylobates muelleri) dari hutan di punggung bukit yang masih asri. Angin sepoi subuh terasa dingin hingga ke dalam tulang, maklum tadi malam barusan turun hujan yang cukup lebat. Begitulah harmoni suasana subuh di Sukadana jantung ibu kota Kabupaten Kayong Utara (KKU) provinsi Kalimantan Barat awal September 2016 lalu.
Di saat enak-enaknya sebagian warga terlelap dalam mimpi terlihat bayangan dua laki-laki sedang berlari kecil. Sesekali mereka menjulurkan tangannya ke depan seperti melepas pukulan kosong. Dua orang itu tak lain Daud Cino Yordan dan Anton salah satu juniornya. Menyebut nama Daud Cino Yordan tentu benak kita akan menyajikan sosok seorang pemuda berusia 29 tahun kebanggaan Indonesia di dunia tinju profesional dunia yang terkenal dengan pukulan kirinya yang keras.
Petinju berjuluk the stone ini, berasal dari kampung Gerai, Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Ayahnya, Hermanus Lay Tjun berdarah Dayak-Tionghoa dan ibunya, Nathalia berdarah Dayak. “Ayah-Ibu saya petani biasa seperti kebanyakan orang kampung yang hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari”, ujar Daud putra ke 4 dari 7 bersaudara ini.
Ia menceritakan kampungnya Gerai cukup jauh dari pusat kota Kabupaten bahkan baru tahun 2015 lalu PLN masuk ke kampungnya itupun hanya hidup saat malam hari. Dari keprihatinan itu tahun 1994 saat berumur 7 tahun ia di boyong abangnya Damianus Yordan yang juga petinju ke Ketapang. Semenjak itu ia dikenalkan dan menekuni dunia tinju. “Dulu kalo ada anak kecil umur 7 tahun lari keliling Ketapang siang-siang hari, itu saya”, ujarnya sambil tergelak mengenang masa lalunya.
Ia mengungkapkan selain memegang rekor tanding dengan 36 kali menang dengan 24 kali diantaranya menang KO dan 3 kali kalah ini pertandingan yang paling memotivasi dirinya adalah saat bertanding di Las Vegas. “Bayangkan anak kampung yang berlatih di hutan dan tempat terbuka bisa menjajal tanding di MGM Las Vegas yang juga kiblatnya tinju dunia dan bisa menang lawan petinju yang kita tahu dengan dukungan fasilitas bahkan sport science, ini menunjukkan kita bisa asal kita punya tekad”, ujar petinju yang merupakan satu-satu petinju Indonesia yang pernah bertanding dan menang di Las Vegas ini. Saat itu ia memang pernah di bawah naungan Golden Boy Promotion milik Oscar de La Hoya salah satu juara tinju dunia yang terkenal, ia pun sempat dijuluki oleh Oscar sebagai The Champion from the Junggle.
Saat ini Daud memegang sabuk Juara Dunia IBO dan WBO, dari hasil keringatnya pun ia merintis sebuah sasana tinju yang diberi nama Daud Yordan Boxing Camp. Menariknya sasana yang baru ia buka sejak April 2016 ini memiliki siswa didik yang cukup beragam mulai dari usia 7 tahun hingga 29 tahun, serta tidak di pungut biaya. Dari dua puluhan siswa tersebut empat diantaranya sering bertanding di tingkat Nasional dan menoreh prestasi yang cukup berarti.
“Empat diantara mereka ini sudah sering bertanding membawa nama sasana kami dan tentunya KKU, akhir september ini kita bertanding di Palembang”, ujar Bang Odin salah satu pelatih sasana yang juga berprofesi sebagai polisi PP di KKU.
“Saya selalu memberi motivasi bagi para junior saya, agar mereka memanfaatkan masa mudanya dengan menyalurkan minat bakatnya secara tepat dan terpenting mereka mau saya asih, asuh dan asah”, ujar Daud suami dari Mega dan ayah dari Miguel Yordan (3,5 th) ini.
Daud memang selain menekankan keseriusan dalam berlatih juga tentang kedisiplinan serta sikap rendah hati pada para juniornya, misalnya bagaimana bersikap dengan orang yang lebih tua, tidak sombong dan memiliki semangat mau belajar. “Saye semenjak ikut Bang Daud, tak pernah agek betinju ame kawan, kalo maok betinju tu harus di ring”, ungkap Febri salah satu siswa latih yang juga siswa kelas IV SD dengan logat melayu-nya yang khas.
“Tinju bukan hanya mengenai bagaimana mengalahkan lawan tapi bagaimana mengontrol diri agar tak Jemawa”, seru Daud. Ia pun menceritakan banyak yang ikut dirinya adalah anak yang putus sekolah, memiliki masalah keluarga dan permasalahan lainnya. Hal ini pun diamini Anton (29 tahun) salah satu petinju profesional yang berasal dari Kabupaten Sekadau. “Saya dulunya montir, putus sekolah ikut bang Daud puji Tuhan ikut paket dan sekarang kuliah di UT, bagi saya Bang Daud menginspirasi dan memotivasi kita dan memperlakukan kita seperti layaknya keluarga”, ujar Anton dengan mata berbinar.
Dunia olah raga termasuk tinju tentu mengenal adanya momentum ataupun usia produktif sehingga atlet dituntut untuk memanajemen betul masa depannya khususnya perencanaan keuangan. Hal ini pun tak lupa Daud sisipkan dalam materi “sekolah kehidupan” bagi para siswa sasananya. Baginya merancang masa depan dengan menabung adalah harga mati bagi tiap atlet. “Menabung bukan tentang besar kecilnya nilai namun yang penting bagaimana menjadi prioritas kita, karena ada satu masa prestasi kita mulai redup atau kita harus pensiun dari dunia tinju, nah paling tidak kita ada persiapan untuk meneruskan hidup”, ungkap pria yang juga hobi mencari ikan dengan cara menyelam ini.
Hal itu juga-lah alasan dirinya mendorong siswa latihnya untuk menabung di lembaga keuangan termasuk di Credit Union. “Bagi saya CU adalah jantungnya ekonomi masyarakat khususnya di pedalaman, saya sudah merasakan bagaimana masyarakat khususnya di kampung ekonominya bertumbuh dengan bergabung menjadi anggota CU” ungkapnya.
“CU itu memberdayakan anggotanya ini penting bagaimana masyarakat diajak berpikir kritis tentang masa depan ekonominya”, timpal pria penyuka masakan gulai ikan buatan istri tercinta.
Tinju dan Credit Union sebuah dunia yang berbeda bahkan cenderung bertolak belakang namun di satukan dengan satu kata yakni pemberdayaan. Ya pemberdayaan untuk kehidupan yang lebih baik termasuk masa depan financial. CU-pun sudah melakukan sejak puluhan tahun lalu di Indonesia dengan gerakan ekonomi kerakyatannya. Daud Cino Yordan pun telah memulainya dengan terus mengasah talenta-talenta muda yang nantinya diharapkan mampu mengibarkan merah putih di kancah tinju dunia.
Tak terasa sang Fajar telah merona merah menandakan pagi mulai tiba. Tetesan demi tetesan keringat tak menyurutkan semangat Daud Cino Yordan untuk terus berlatih menyiapkan perebutan gelar WBA di akhir tahun ini. “Vernando Suceido adalah petinju Argentina yang akan saya lawan akhir tahun 2016 ini, doa dan dukungan masyarakat Indonesia sangat saya butuhkan untuk mengukir sejarah sebagai petinju Indonesia pertama yang dapat merebut tiga gelar sekaligus IBO, WBO dan WBA” harapnya sambil menyeka keringat di wajahnya.
Mimpi demi mimpi telah diraih oleh Daud Cino Yordan di usia emasnya. Sikap jemawa sedikit pun tak tampak dari pribadi yang penyayang ini. Baginya hidup berarti bagi orang lain adalah warna tersendiri bagi hadirnya ia di dunia. Baginya sukses adalah hak semua orang, serta sukses hanya diberikan pada orang yang memiliki tanggung jawab. “Satu hal buat anak muda pesan saya adalah sukses akan diberikan pada orang yang bertanggung jawab, karena diluar itu akan menjadi sebuah kebetulan yang umurnya hanya sekejap”, pungkasnya.
Semoga asa itu terus menggelora dan menginspirasi bagi darah-darah muda apapun bidang serta latar belakang pekerjaan yang mereka tekuni, semoga! (VD. Irwin-CUPS)
anak-anak berdoa dulu sebelum berlatih

Daud Cino Yordan

Daud Yordan bersama aktivis CUPS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.